Mau Tahu Tentang TV Digital : Berikut Penjelasannya

Apa itu TV Digital

Kemeterian Informasi dan Komunikasi RI mendefinisikan  TV digital sebagai siaran audio (suara), video (gambar) memuat fitur informasi lainnya yang disiarkan dengan format digital. Tv ini disebut digital karena memiliki entitas fisik yang dikuantisasi dan berkarakter biner.

Laman  Independent.co.uk di Inggris mendefinisikannya sebagai TV yang diterima dengan cara digital,  (bukan analog seperti yang ada sekarang ini) yang memungkinkan perusahaan televise menyiarkan siaran dalam format suara yang berkualitas, gambar berdefinisi tinggi (HD) serta jumlah channel yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Apa saja kelebihannya

Kelebihan lainnya menurut situs yang berbasis di Inggris ini, TV digital menyedia fitur interaktif antara audien/penonton dengan stasiun radio yang tidak ada pada perangkat televise analog. Akses ke internet juga semakin mudah dengan perangkat TV digital ini.

Lebih dalam penjelasannya, Kementerian Kominfo RI menyebutkan infrastruktur TV digital di Indonesia sudah dibangun sejak 2012 oleh penyelenggara multipleksing. Beberapa daerah yang sudah dapat menikmati layanan TV digital ini antara lain Pulau Jawa dan Kepulauan Riau. Selanjutnya akan disusul daerah lainnya seperti Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Indonesia sendiri saat ini masih dalam masa transisi perpindahan dari TV analog ke digital.

Kementerian Kominfo juga menjelaskan bahwa masyarakat pengguna televise analog tak harus beli televise baru untuk bisa menyaksikan siaran TV digital. Pemilik TV hanya perlu memiliki Set Top Box (STB) standar terbaru, DVB-T2 yang ditetapkan pada tahun 2012 menggantikan STB lama versi DVB-T.

Perbedaan paling kontras antara kedua model TV ini adalah dalam hal pemanfaatan kanal frekwensi. TV analog misalnya, penggunaan satu kanal frekwensi hanya bisa digunakan oleh satu siaran saja. Tetapi versi digital untuk satu frekswensi bisa digunakan untuk 12 program siaran. Dalam hal kualitas siaran, TV digital jauh lebih stabil tampilan gambarnya dibandingkan analog yang cenderung menurun jika lokasi receiver jauh dari pusat transmisi siaran sehingga bisa menimbulkan noise (bersemut).

Kemudahannya bagia penyedia program siaran, mereka tidak perlu investasi besar-besaran untuk membangun sarana seperti tower, pemancar dan lain-lain. Mereka hanya perlu menyewa slot siaran pada operator multipleksing untuk melakukan penyiaran di wilayahnya. (FNS-UBNEWS)