Kabut Menyambut Kami Di Ratawali

Rasanya seperti berada di atas awan, kabut putih tiba-tiba dating menyelimuti kawasan pegunungan di Kampung Ratawali, Kecamatan  Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Benar, tak pernah menyangka kedatangan tim supervise KKN UUI ke kawasan itu bakal disambut dengan kepungan kabut. Karena sewaktu masuk dari Jalan Lukup Sabun, tak ada tanda-tanda kabut sedikit pun. Kami malah dengan leluasa menikmati keindahan pemandangan di kawasan pegunungan sekitar Kute Panang.  Memang di kiri dan kanan jalan tampak rumah-rumah warga yang sedang dibangun kembali pasca gempa yang menggoyang Tanoh Gayo tahun lalu.

Sejumlah mahasiswa tampak sumringah begitu melihat mobil Avanza putih berstiker UUI parker di depan pemondokan mereka. “Silakan masuk Bapak dan Ibu,”kata mereka begitu melihat kami turun dari mobil. Suasana sejuk langsung menyergap kami yang baru tiba dari pesisir Banda Aceh. Setiba di lokasi pemondokan mahasiswa, barulah kami paham kalau di daerah ini memang selalu dihiasi kabut ketika musim hujan.

Senja masih merayap, magrib pun tiba. Tak ada lagi aktivitas KKN yang mereka lakukan. Beberapa diantaranya tampak sedang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti. Begitu Azan magrib menggema, kami diajak ke Masjid setempat sambil menerobos kabut yang pekat. Masjid ini merupakan satu dari sekian banyak bangunan yang rusak berat saat gempa tahun lalu. Setelah mendapat bantuan dari pemerintah, masjid ini akhirnya dapat dibangun kembali meski tak sepenuhnya selesai. Kondisi kamar mandi dan tempat wuduknya masih darurat bahkan di bagian dalam mesjid juga masih butuh banyak perbaikan.

Jadi Ahli Kopi

Selepas magrib kami mengadakan pertemuan dengan mahasiswa   kelompok Ratawali pimpinan Akbar  Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UUI. Akbar memaparkan sejumlah kegiatan yang telah dilakukan selama seminggu pertama, seperti lokakarya mini dengan Kepala Desa, penyuluhan ibu hamil, kesehatan penyuluhan perilaku hidup seha, pelatihan computer dan kegiatan lainnya.

Dia juga menjelaskan bahwa kelompok ini sebelumnya berlokasi di Wih Nongkal, namun karena ada masalah teknis akhirnya dipindahkan ke Ratawali. “Di sini kondisinya lebih baik. Dan kami bisa berinteraksi dengan masyarakat. Pak Sekdes juga memfasilitasi kami dengan baik,”kata Akbar.

Selama berada di Ratawali, kata Akbar selain dapat melakukan kegiatan bersama masyarakat pihaknya juga kian paham tentang aneka jenis kopi dan cita rasanya. Hal itu mereka pelajari dari Pak Amri, sekretasi desa setempat. “So, pulang KKN bisa jadi ahli kopi ni,”celetuk salah seorang dosen tim supervise yang disambut derai tawa mahasiswa yang hadir.

Bagi tim supervise, sajian kopi Arabika di Ratawali, di tengah malam yang berkabut itu menjadi momen yang tersendiri. Ini kopi menyimpan cita rasa tinggi.