Perjalanan Aslan Saputra dan Tim JENESYS 2.0 Aceh Ke Jepang (Bagian I)

logouui

Tim Jenesys 2.0 asal Aceh, Aslan Saputra (STMIK UBudiyah), Rahmad Wahidi, Liza Yulianti, dan Nurhasanah (Unsyiah) menempuh penerbangan selama enam jam berasama maskapai Japan Air Lines (JAL) yang membawa mereka dari Jakarta melintasi Laut Tiongkok Selatan ke destinasi tujuan bandara Narita Tokyo. 

JAL mendarat mulus di bandara Narita sekitar pukul 06:35 waktu setempat. Setiba di Jepang, Tim Aceh bersama tim lainnya dari Indonesia kemudian dibawa Hotel Metropolitan di Kota Tokyo. Lantaran jet lag akibat perjalan pesawat dan perbedaan waktu antara Jakarta dan Tokyo, mereka diberi waktu untuk beristirahat selama sehari penuh.  Kondisi ini diperlukan untuk memulihkan kebugaran mereka sebelum memulai rangkaian kegiatan lainnya.

 Aktivitas mereka mulai berdenyut di hari kedua. Aslan dan rekan-rekan diajak mengenali lebih dekat tentang sejarah, budaya dan masa depan Jepang di Edo Tokyo Museum. Ditemani sejumlah volunteer mereka kemudian berjalan mengelilingi museum itu. Di sini mereka diperkenalkan tentang sejarah Shogun, melihat foto-foto kegemilangan pelaksaan Olimpiade pada era 1990-an dan rencana Jepang untuk menggelar olimpiade pada tahun 2020-an. 

Ketika tiba waktu makan siang mereka diajak ke Nihom Sumo Museum. Sayangnya di sini sedang tidak ada kompetisi Sumo, jadi mereka haya kebagian menyaksikan arena pertandingannya saja.  

Simulasi Bencana

Selepas makan siang, mereka diajak ke museum lainnya yang lebih spesifik dan terkait dengan edukasi kebencanaan. Museum satu ini bernama Tokyo Renkai Disaster Prevention Park. Di lantai pertama, edukasi yang diberikan kepada mereka adalah dengan cara berkeliling museum sambil menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Untuk memberikan jawaban mereka dibekali satu device sejenis Nitendo sebagai alat untuk memasukkan jawaban.

Di lantai dua, mereka diajak menyaksikan satu animasi yang berjudul “72 hours hot to survive”. Film ini berkisah tentang persiapan-persiapan yang dilakukan oleh dua orang kakak beradik yang bersiap-siap membekali diri mereka untuk menghadapi bencana.