Knowledge Sharing dengan Dosen Poltekkes Yogyakarta

Forum Knowledge Sharing bagi dosen UUI Agustus ini dibahani oleh dua dosen Politeknik Kesehatan Negeri Yogyakarta, Yuni Kusmiyati MPH dan Heni Wayu Ningsih M.Keb, Selasa 12 Agustus 2014 di Faculty Member Lounge UUI. Rektor UUI Marniati, MKes dalam pengantarnya memaparkan bahwa dosen UUI harus selalu update pemahaman tentang kurikulum yang mengacu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan SNPT. Kehadiran kedua pengajar senior dari Poltekkes Yogyakarta ini diharapkan mampu memberikan penyegaran kepada para dosen.

Yuni yang tampil sebagai pembicara utama mengemukakan tentang time-line perubahan kurikulum perguruan tinggi di Indonesia. Pada tahun 1994, Indonesia memperkenalkan Kurikulum Nasional yang kemudian berubah menjadi Kurikulum Inti dan Institusional atau lebih dikenal dengan KBK (Kurikum Berbasis Kompetensi). Namun seiring perubahan dan perkembangan dunia yang kian mengglobal, Indonesia perlu menyusun satu kerangka nasional yang mendapat pengakuan secara internasional. Hal ini kata Yuni sebenarnya dilatarbelakangi oleh masalah yang dihadapi lulusan sarjana atau diploma asal Idonesia ketika bekerja di luar negeri. Pasalnya, di luar negeri mereka menjadikan level pendidikan sebagai acuan.Misalnya untuk Diploma itu setara dengan level 5, sarjana setara dengan level 6, profesi level 7 dan S-2 level 8.

Yuni juga mengungkapkan bahwa yang membedakan KKNI dengan KBK adalah pada capaiannya. Jika KBK focus pada kompetensi semata, tetapi KKNI lebih kepada learning outcome (capaian pembelajaran). Ditambahkannya, bahwa penyusunan kurikulum itu memang tidak mungkin mencapai titik sempurna. Karena akan selalu ada perubahan baik secara regulasi maupun teknologi, misalnya perubahan SNPT. Hal ini dikemukakannya ketika menjawab pertanyaan Ketua Program Studi PGSD UUI Said Ashlan MPd. Diakuinya ada banyak tarik menarik dalam penyusunan SNPT ini sehingga draf yang ada belum tentu sama dengan SNPT yang sudah disahkan.  

Sementara itu, Henni Wahyu Ningsih M.Keb mengulas tentang model pembelajaran. Dengan penerapan kurikulum yang baru, maka model pembelajaran CTJ (ceramah dan sanya jawab) sudah tak lagi relevan. Henni kemudian menyebutkan model Problem-based learning (PBL) sebagai model pembelajaran yang sesuai. Hanya saja, ketika diimplementasikan model ini membutuhkan ketersediaan sarana dan prasarana. Karena model ini mempersayaratkan keaktivan mahasiswa dalam proses pembelajaran, sehingga praktis dalam setiap pembelajaran mahasiswa akan membentuk kelompok-kelompok diskusi yang terdiri dari delapan orang.

Mereka kemudian diminta untuk mecari terminologi atau istilah-istilah yang belum mereka pahami (unclear term). Mereka kemudian ditugasi untuk bekerja secara kelompok, mencari sumber-sumber referensi baik buku, online dan lainnya. Kemudian dibahas bersama di kelompok masing-masing. Setelah itu, mereka kembali berkumpul untuk mendiskusikan secara bersama-sama. “Di sini peran dosen adalah bagaimana merumuskan scenario, untuk dijalankan oleh mahasiswa,”terang Henni saat menjawab pertanyaan yang diajukan Wakil Rektor Agus Ariyanto SE, MSi seputar konsep Problem Based Learning.

Rektor UUI ketika menutup forum ini menegaskan bahwa apa materi tentang Problem Based Learning tersebut dapat diterapkan oleh para dosen dalam setiap proses belajar mengajar. Kegiatan Knowledge Sharing ini dihadiri oleh seluruh dosen UUI dari semua program studi. Kegiatan ini menjadi tradisi di UUI dalam rangka meningkatkan kapasitas pembelajaran bagi dosen.