UUI-UNIMAP Jadi Role Model Kerjasama RI-Malaysia

UUI Serius Persiapkan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi

Kerjasama antara UUI (Indonesia) dan Unimap (Malaysia) bisa dijadikan sebagai model terbaik kerjasama RI dan Malaysia. Pernyataan itu dikemukakan Rektor UUI Marniati SE MKes seusai acara pelantikan pejabat baru di lingkungan UUI, Jumat (31/10) di Ubudiyah Plennary Hall.

Dikatakan Rektor, implementasi kerjasama yang dibangun UUI dengan  Unimap dibangun atas dasar kesetaraan dan menguntungkan kedua belah pihak. Dalam posisi ini, UUI untuk juga mendapat transfer pengalaman dan best practice dari universitas yang telah mendapat rating 3-star dari lembaga pemeringkatan international QS Star.

Adanya kesamaan nasib sebagai institusi perguruan tinggi yang dibangun dari bawah serta rasa solidaritas sesama bangsa serumpun dan seagama menjadi landasan yang selama ini memperkokoh kerjasama antara UUI dan Unimap. Lebih lanjut rector menguraikan sejumlah bagian kerjasama akademik dan nonakademik yang telah dijalani bersama Unimap.

Diantara program lecturer exchange dengan mendatangkan staf pengajar Unimap untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada dosen dan mahasiswa UUI, penyelenggaraan seminar dan konferensi internasional. Bahkan UUI mendapat kehormatan membawa misi kebudayaan Aceh, Indonesia pada kegiatan Wisuda Unimap ke-9 pada September lalu di Kangar, Perlis.

Peran Unimap juga dipandang strategis dalam mempromosikan UUI bagi kalangan perguruan tinggi di Malaysia, ASEAN dan Asia pada umumnya. Bahkan Vice Chancellor Unimap juga ikut memfasilitasi kerjasama antara UUI dengan Athlone Instute of Technology Irlandia.

Atas peran strategisnya itu, kata Rektor, Ketua Yayasan Ubudiyah Indonesia Dedi Zefrizal kemudian secara resmi mengangkat Datuk Kamarudin sebagai Penasehat Universitas Ubudiyah Indonesia apada medio Agustus 2014 lalu.  Kerjasama ini juga dapat menghapus citra negatif dan gangguan psikologis dan politis yang selama ini kerap menjadi hambatan bagi kedua Negara.

Kerjasama ini akan mulai direalisasikan dengan penyelenggaraan sejumlah program strategis pada tahun 2015 mendatang. Diantaranya pelaksanakan Konferensi Internasional Indonesia, Malaysia dan Irlandia, yang diwujudkan atas dasar kerja sama antara tiga universitas, UUI, Unimap dan AIT. Beberapa kegiatan lainya yang akan dinisiasi tahun depan adalah kegiatan summer program di Ubudiyah yang akan menghadirkan sejumlah mahasiswa internasional dari sejumlah universitas mitra di Malasyia, Thailand, Filipina, Kamboja dan Bangladesh.

Oleh karena itu, Rektor menandaskan bahwa prinsip kerjasama UUI dan Unimap ini akan dijadikan sebagai bagian dari kontribusi terhadap masalah yang dihadapi bangsa ini. Mengutip pernyataan Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Dikti Prof Hermawan Kresno Dipojono MSEE, Ph.D, Rektor UUI menyatakan bahwa saat ini yang dibutuhkan Indonesia adalah solusi atas permasalahan yang sudah ada, bukannya ikut menambah masalah. Karena permasalahan di Indonesia ini sudah cukup banyak, dari Sabang sampai Merauke.

Pada kesempatan itu, Ketua Yayasan Ubudiyah Indonesia Dedi Zefrizal ST juga memaparkan tentang progres kerjasama yang dibangun dengan sejumlah universitas luar negeri di peringkat ASEAN dan ASIA. Dikatakannya, even forum rector se-Asia atau lebih dikenal dengan Asia University Presiden Forum (AUPF) menjadi even paling fenomenal bagi UUI tahun ini. Bagaimana tidak, di even ini UUI bisa menjalin 14 kerjasama strategis dengan sejumlah universitas dari Thailand, Filipina, Malaysia, Korea Selatan dan India.

“Ini menunjukkan bahwa UUI sudah mendapat pengakuan di tingkat Asia. Kita optimis apa yang kita capai di AUPF kemarin di Bangkok akan meningkatkan reputasi UUI di dunia internasional,”papar Dedi bersemangat.  Ia juga mengisyarakat kerjasama UUI dengan Unimap dan sejumlah universitas LN akan mendatangkan hasil yang maksimal di masa yang akan datang.

Ketua Yayasan juga menambahkan kehadiran UUI di AUPF 2014 kemarin sebenarnya tidak hanya dalam menyemarakkan kegiatan AUPF, tetapi peran mereka jauh lebih tinggi terutama dalam mempromosi budaya Aceh dan Indonesia di hadapan forum rector se-Asia terbut. Dan Sanggar Ubudiyah Indonesia Heritage menjadi symbol representasi budaya Indonesia pada momen tersebut. Karena merupakan satu-satu misi budaya yang diundang ke even tersebut.