Prof. Adjunct. Unimap Marniati, SE, M.Kes Kartini Masa Kini Membangun Pendidikan Dengan Hati

Perannya dalam mengembangkan pendidikan tinggi di Aceh sudah dimulai sejak tahun 2005,  ketika pertama kali resmi bergabung sebagai staf administrasi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Ubudiyah.  Sebagai seorang Sarjana Ekonomi dalam bidang akuntansi, selain masalah administrasi ia juga membantu dalam pengelolaan keuangan sekolah tersebut.


Peran mulai terlihat signifikan ketika ia dan sang suami Dedi Zefrizal ST Ketua Yayasan Universitas Ubudiyah Indonesia hendak mewujudkan gagasan pendirikan klinik bersalin sebagai tempat praktik bagi mahasiswa Kebidanan STIKes Ubudiyah. Setelah melalui berbagai pertimbangan, gagasan sederhana membangun klinik kebidanan itu berubah menjadi satu gagasan besar mendirikan Rumah Sakit Ubudiyah.


Ketika itu usia baru sekitar 26 tahun, saat gagasan itu direalisasikan, ia mendapatkan banyak hambatan. Misalnya hambatan  internal seperti tidak adanya kompetensi di bidang ilmu kesehatan, juga ketersediaan dana untuk pembangunan dan operasional rumah sakit. Dari sisi eksternal, sebagai wanita muda yang masih berada di awal-awal karirnya tentu masih punya banyak kekurangan, misalnya belum punya relasi dan jaringan kerja yang kuat dengan berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Wajar jika kemudian, ia mendapati banyak kesulitan ketimbang kemudahaan, khususnya pada tahap-tahap awal mengejar mimpinya mengembangkan dunia pendidikan tinggi dan sector kesehatan di Aceh.


Dengan dukungan sang suami dan juga keluarga, Marniati yang jika dilihat dari semangat juang tak ubahnya ibarat kartini masa kini. Semangat itu pula yang menguatkannya untuk terus belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Menyadari akan kurangnya kompetensi dalam bidang kesehatan, pada tahun 2007 Marniati memutuskan untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di bidang administrasi rumah sakit pada Universitas Sumatera Utara (USU).  Dari perjuangannya dan sang suami, mereka akhirnya mendapatkan bantuan pembiayaan dari Bank Syariah Mandiri untuk pengembangan Rumah Sakit Ubudiyah. Pembiayaan ini merupakan sesuatu yang sulit untuk di dapatkan pada saat kondisi perekonomian Aceh pada saat itu. Pasalnya sebelum realisasi pembiyaan dengan BSM, sudah ada sederetan lembaga perbankan yang menolak proposal mereka.


Dari kampus tersebut, ia kemudian berhasil meraih gelar Magister Kesehatan pada tahun 2009, hanya berselang beberapa hari dari hari ulang tahun sekaligus peresmian Rumah Sakit Ubudiyah.   Kesuksesan membangun RS Ubudiyah menjadi satu berkah tersendiri bagi Marniati. Karena dengan demikian dirinya dan sang suami berharap dapat memberikan kontribusi berupa penyediaan jasa layanan kesehatan bagi masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya.


Pada tahun 2010, Marniati yang sudah bergelar magister kemudian ditunjukkan untuk menjabat sebagai Ketua STIKes Ubudiyah. Penunjukkan ini jika dilihat dari unsure kemanfaatannya akan sangat kuat bagi STIKes, karena hubungan komunikasi dan koordinasi antara Ketua STIKes dengan Ketua Yayasan menjadi semakin mudah. Ini diharapkan ketika bisa mempercepat pengembangan STIKES Ubudiyah, apalagi pada tahun 2007, Yayasan Ubudiyah mengambil alih pengelolaan STMIK Padjajaran menjadi STMIK UBudiyah Indonesia.


Selama lima tahun pertama kepemimpinannya di Ubudiyah Marniati sudah mengukir hingga 18 penghargaan dan anugerah dari berbagai institusi baik di dalam maupun luar negeri. Penghargaan tersebut antara lain diberikan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas kiprah-kiprahnya dalam pengembangan pendidikan tinggi.  Sukses tiga tahun pertama diraih dengan membangun dan memperkuat kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri lainnya.


Berbekal tempaan pengalaman selama lima tahun terakhir, Marniati terus mengupayakan berbagai pengembangan. Setelah mendapat banyak masukan dari berbagai kalangan, ia dan sang suami kemudian mengajukan proposal pendirian universitas ke Dirjen Dikti. Sayangnya proposal tersebut sempat ditolak, namun disarankan untuk mengusulkan universitas dari perguruan tinggi yang sudah ada. Dari rekomendasi itu, ia kemudian mengajukan proposal baru penggabungan STIKes Ubudiyah dan STMIK Ubudiyah menjadi universitas. Usulan itu diajukan pada tahun 2011.


Setelah tiga tahun lamanya menunggu kepastian, sekitar 21 November 2013, tim evaluator dari Dirjen Pendidikan Tinggi mengadakan kunjungan lapangan untuk mencocokkan kesesuain antara uraian proposal dan bukti fisik di lapangan. Hingga awal tahun 2014 belum ada tanda-tanda akan disetujuinya pendirian Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kecuali pada pertengah April 2014, Marniati yang ketika itu masih menjabat sebagai Ketua STIKes Ubudiyah mendapatkan informasi bahwa Kementerian Pendidikan telah menerbitkan SK penggabungan STIKes dan STMIK Ubudiyah menjadi Universitas Ubudiyah Indonesia.


Sejak 2013, Marniati juga gencar mengembangkan kerjasama internasional dengan sejumlah universitas di berbagai negara. Pada Juli 2013 misalnya ia bersama delegasi Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) mengadakan kunjungan kerja sekaligus menandatangani kerjasama dengan sejumlah universitas di Spanyol, Kroasia dan Hungaria. Pada akhir tahun 2013, pada Asian University President Forum (AUPF), ia membawa UUI (Ketika itu STIKes dan STMIK) untuk menjalin kerjasama dengan sejumlah universitas di Asia seperti Universiti Malaysia Perlis, Philippine Normal University, dan Rajamangala University of Srivijaya.


Berbagai realisasi kerjasama mulai diimplementasikan sejak tahun 2014 bersama Unimap dan Phillipine Normal University. Dia juga memotivasi para dosen dan mahasiswa untuk ikut dalam berbagai program internasional seperti Asia Summer Program 2014 dan kegiatan konferensi internasional di Malaysia. Untuk memantapkan kiprahnya di dunia internasional pada tahun 2014 lalu, Ketua Yayasan UUI menunjuk Brigjen Datuk Prof Dr Kamarudin Hussin sebagai penasehat UUI.


 Kini di tahun 2015, Marniati dengan dukungan penuh Ketua Yayasan Ubudiyah Dedi Zefrizal terus menggerakkan inisiatif baru seperti pelaksanaan Pameran International Art, Creativity, and Engineering Exhibition (I+Aceh) pada maret lalu dan konferensi IJCIMBI yang melibatkan empat negara Indonesia, Malaysia, Bangladesh dan Irlandia.


Dari berbagai kiprah yang dilakoninya itu ia berhasil mengoleksi 18 penghargaan nasional dan internasional. Sejumlah penghargaan terbaru antara lain Cut Nyak Dhien Award dalam bidang Pendidikan, Outstanding Achievement dari Asia Invention Association (AIA) Korea Selatan dan Anugerah Professor Adjunct dari Universiti Malaysia Perlis.


Bertepatan dengan peringatan hari Kartini pada April ini, maka perjuangan yang dilakukan Marniati hari ini adalah sejalan dengan perlawanan yang dilakukan Kartini di masanya. Hanya arena dan konteks perjuangannya saja yang membedakan.
sumber Harian Waspada Medan, halaman Utama, selasa 21 April 2015.