INFO TERKINI : Program studi S-1 Teknik Informatika terakreditasi B, S-1 Sistem Informasi terakreditasi B, D-III Kebidanan terakreditasi B.    Universitas Ubudiyah Indonesia menerima pendaftaran mahasiswa baru jalur non-reguler (kelas karyawan) perkuliahan sabtu-minggu.    Universitas Ubudiyah Indonesia membuka pendaftaran mahasiswa baru Gelombang III mulai tanggal 10 Juli 2017-12 Agustus 2017. Program studi : S-1 Teknik Informatika, S-1 Sistem Informasi, D-III Kebidanan, D-IV Kebidanan, S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat, S-1 Farmasi, S-1 Ilmu Gizi, S-1 Psikologi, S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, S-1 Pendidikan Ilmu Komputer, S-1 Ilmu Hukum, S-1 Teknik Arsitektur, S-1 Teknik Sipil, S-1 Manajemen, dan S-1 Akuntansi.    

UUI lahirkan Bidan berwawasan Internasional di Aceh

Perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan nasional maupun internasional terjadi begitu cepat. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dipahami oleh petugas kesehatan khususnya bidan yang bertugas sebagai bidan di pelayanan. Pelayanan kebidanan adalah seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktik profesi bidan dalam system pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum perempuan khususnya ibu dan anak. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu dan bayinya. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Adj. Marniati, SE., MKes. disela-sela acara pembekalan lulusan profesi bidan di UUI pada 8 Desember 2018 lalu.

Keberadaan bidan di Indonesia sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan ibu dan janinnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya. Lebih lanjut, Prof Adj. Marniati menjelaskan, pelayanan kebidanan merupakan pelayanan profesional yang menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan sehingga standar pelayanan kebidanan dapat pula digunakan untuk menentukan kompetensi yang diperlukan bidan dalam menjalankan praktek sehari-hari. Standar ini dapat juga digunakan sebagai dasar untuk menilai pelayanan, menyusun rencana pelatihan dan pengembangan kurikulum pendidikan serta dapat membantu dalam penentuan kebutuhan operasional untuk penerapannya,

Pada kesempatan itu, Rektor Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) Prof Adjunct. Marniati, SE., MKes., mengungkapkan bahwa saat ini hanya sekitar 20 persen negara yang memiliki cukup bidan yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dasar perempuan dan bayi yang baru lahir. Sedangkan 70 persen negara menghadapi kekurangan serius dalam bidang kebidanan yang mengakibatkan kematian ibu dan bayi yang sebenarnya bisa dicegah. Jika bidan menerima pendidikan sesuai standar internasional serta didukung sistem kesehatan yang berfungsi optimal, mereka dapat memberikan 90 persen perawatan penting untuk ibu dan bayi yang baru lahir. bidan yang yang kompeten dan didukung fasilitas kesehatan optimal mampu mengurangi dua per tiga dari angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Bidan diakui sebagai sebagai seorang profesional yang bertanggungjawab dan akuntabel, bermitra dengan perempuan dalam memberikan dukungan, informasi berdasarkan bukti, asuhan dan nasihat yang diperlukan selama masa kehamilan, persalinan dan nifas, memfasilitasi kelahiran atas tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan kepada bayi baru lahir dan anak. Oleh karena itu UUI berkomitmen
Penuh untuk selalu meningkatkan mutu standar pelayanan bidan lulusannya.

Prof. Adj. Marniati juga menuturkan bahwa baru sekitar 10 persen dari total lulusan bidan di Aceh yang piawai berbahasa Inggris. “Hal ini menjadi tantangan bagi para bidan agar eksis dan memenangkan persaingan di kancah global. Untuk itu diharapkan kemampuan bahasa asing bidan harus diasah dan ditingkatkan. Saat ini masyarakat butuh bidan yang profesional di tengah era globalisasi. Ia mendorong tenaga bidan di Aceh harus mampu menjadi pemenang di tanah sendiri. Oleh karena itu, Prof. Adj. Marniati mengimbau bidan segera memenuhi persyaratan yang diperlukan agar memenuhi standar nasional maupun internasional sebagai bidan profesional.

Prof. Adj. Marniati menyatakan sistem pelatihan kebidanan harus diperbaiki. Selain meningkatkan kemampuan akademik, seorang bidan diharapkan mampu menguasai teknik berkomunikasi yang baik terhadap para pasiennya. Mengapa demikian? karena ternyata salah satu faktor yang membuat banyak orang Indonesia memutuskan untuk lari berobat ke luar negeri adalah karena minimnya kemampuan yang dimilki tenaga medis indonesia dalam menjalin komunikasi yang baik dengan para pasien. bidan di indonesia memiliki peluang untuk dapat mengembangkan kompetensinya hingga ke manca negara, Asal dapat memenuhi beberapa kualifikasi yang telah ditentukan, dimulai dengan pembuatan visa untuk mendapatkan ijin kerja keluar negeri, serta menyertakan lisensi dari Badan Konsil Kesehatan Indonesia untuk mendapatkan surat ijin berpraktek ke luar negeri, setelah memenuhi kualifikasi tersebut para bidan baru dapat mengaplikasikan kemampuannya disana. Terdapat ada 3 kompetensi yang harus dimiliki oleh sorang bidan, antara lain kompetensi teori komprehensif, pengetahuan, skill, serta menguasai teknik pendekatan komunikatif kepada pasien.

Oleh karena itu, UUI berupaya untuk menekan jumlah lulusan kebidanan yang kurang memenuhi standar dan lebih memprioritaskan pada peningkatan kwalitas akademik dan kompetensi. Antara lain dengan mengarahkan para lulusan untuk menempuh program pendidikan S1 hingga S3 untuk kematangan akademisnya, serta upaya mengasah kemampuan non akademisnya. Selain itu, program internasionalisasi juga diupayakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan seorang bidan. UUI juga telah melakukan berbagai kerjasama dengan badan profesi bidan luar negeri, tentunya kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendukung kompetensi bidan Indonesia, khususnya di Aceh.

Dan yang terbaru adalah UUI sedang membuat rencana kesiapan bidan profesi untuk menghadapi revolusi industri 4.0 di tingkat nasional dan internasional. Khusus di Aceh, UUI sedang melaksanakan peningkatan kapasitas profesionalisme bidan profesi sesuai dengan kebutuhan permintaan dari berbagai Negara di dunia. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk membantu menyalurkan lulusan bidan profesi di Aceh untuk memperoleh pekerjaan yang pantas dan layak serta mengurangi angka pengangguran di Aceh. Prof. Adj. Marniati menambahkan bahwa dalam perkembangan industri kesehatan terkini, beberapa perusahaan teknologi telah mengembangkan produk mereka dengan menggunakan kecerdasan buatan untuk memproses data-data yang dikumpulkan dari pasien. Kemajuan teknologi dalam Revolusi Industri 4.0 memiliki tujuan yang jelas, yaitu mencari jalan terbaik untuk membawa kecerdasan buatan dan teknologi membantu pekerja di sektor kesehatan mengatasi masalah di bidang kesehatan. Seiring dengan hal tersebut, Prof. Adj. Marniati selalu memberikan dorongan bagi para bidan dan calon bidan yang belajar di UUI untuk “melek teknologi informasi” dan mau mengikuti perkembangan kecerdasan informasi demi meningkatkan kapabilitas dan kualitas indivudi profesi bidan lulusan UUI sehingga dapat berguna bagi seluruh masyarakat.

Kata-Kata Bijak
" Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. (Albert Einstein) "